Tip Menjadi Pemimpin Yang Baik

Tip Menjadi Pemimpin Yang Baik – Banyak yang ingin menduduki posisi atas dan menjadi pemimpin. Namun kenyataannya, tak banyak orang bisa menjadi pemimpin yang baik. Ingin tahu bagaimana caranya? Berikut rangkuman Indah C.  Putri.

Menjadi seorang pemimpin bisa dikatakan suatu jabatan yang gampang-gampang susah. Gampang karena dengan posisi ini berarti kita duduk di tingkat yang cukup tinggi bahkan mungkin tertinggi dalam sebuath instansi. Itu artinya ada keleluasaan untuk mengatur dan memberi instruksi. Susahnya, tanggung jawab seorang pemimpin itu sangat besar.

“Menjadi pemimpin selalu diartikan sebagai proses untuk mempengaruhi orang lain agar mereka mau bergerak bersama untuk mencapai sebuah tujuan pribadi atau profesional. Tetapi saat ini, tidaklah cukup jika seorang pemimpin hanya terfokus pada tujuan atau hasil,” jelas Sugeng Santoso, Founder dan Presiden Direktur Potentia Institute of Empowerment.

Selama ini,  banyak yang beranggapan bahwa seorang pimpinan dinilai sukses bila dia berhasil mencapai kesuksesannya dengan waktu yang cepat. Kesuksesan cepat itu menurut Sugeng bisa diraih ketika sang pemimpin hanya fokus pada pencapaian tujuan semata. Tidak ada kepedulian pada kondisi moral dan kepuasan kerja para individu. “Dalam kondisi seperti itu, kesuksesan bisa saja diraih cepat. Tapi dalam jangka panjang, seluruh organisasi atau instansi akan terkena dampaknya, Sebaiknya, pemimpin selalu memperhatikan kinerja individu dan mendorong karyawan untuk selalu berkembang,” imbuh pria yang juga seorang pembicara dan motivator itu.

HARUS DIMILIKI SEORANG PEMIMPIN

Dari sekian banyak syarat, ada beberapa hal dasar yang harus dimiliki jika kita berada pada posisi atas yaitu :

BE (BERKARAKTER)

Sebagai seorang pemimpin, kita sudah dianggap sebagai contoh atau panutan bagi karyawan. Karena itu, jadilah contoh yang baik. Jika menetapkan aturan, tidak boleh makan di meja kerja; taatilah. Jangan hanya menyuruh karyawan untuk menurut tetapi kita sendiri asyik-asyik mengunyah di meja.

KNOW (KAYA AKAN ILMU PENGETAHUAN)

Coba tanyakan pada diri sendiri, senangkah jika dipimpin seseorang yang bodoh? Tentu tidak. Jadi perluas dan tingkatkan selalu pengetahuan yang dimiliki. Seorang pemimpin yang pandai dan cerdas akan membuat orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih percaya diri.

DO (BERTINDAK)

Meski menjadi pemimpin bukan berarti kita bisa seenaknya memerintah. Jangan harap bawah dan tim kerja akan melakukan tugas-tugas dengan baik kalau kita sebagai pemimpin tidak memberi contoh yang baik,

bisnis online

MINIMALKAN KEKELIRUAN

Seorang pemimpin biasanya dianggap sebagai sosok yang mampu melakukan banyak hal. Namun, tentu pemimpin tetap seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Meski begitu, bukan berarti kita jadi menyerah begitu saja dan selalu mengambinghitamkan status “kemanusiaan” kita. Sebisa mungkin, minimalkan terjadinya kekeliruan atau kesalahan.

Caranya :

Kuasai detail pekerjaan dengan baik

Hal ini berguna agar kita dapat menjadi seorang pemimpin yang efisien sehingga tidak membuang-buang waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Harus ringan tangan untuk membantu

Jika benar-benar seorang pemimpin yang hebat, kita harus mau melakukan pekerjaan apapun, termasuk yang dilakukan para bawahan.

Tidak menjadikan staf sebagai pesaing

Jika selalu ketakutan salah seorang anggota tim atau bawahan mengambil alih, hal itu malah akan terjadi cepat atau lambar. Pemimpin yang baik justru akan  melatih orang lain untuk bisa menjadi pengganti. “Yakinlah, saat kita mampu membuat oran glain bekerja lebih baik, kita pasti mendapat penghargaan lebih tinggi,” ujar Sugeng.

Optimis dan positif

Sebagai seorang pemimpin, kita diharuskan untuk cepat dan tanggap dalam menghadapi situasi dan kondisi darurat. Apa jadinya perusahaan jka pemimpinnya mudah panik atau selalu berpikiran negatif.

Jangan egois

Jadilah seorang pemimpin yang dengan iklas mau dan bisa mengakui bahwa keberhasilan yang diraih adalah berkat kerja tim bukan karena diri sendiri.

Tidak bersikap berlebihan

Sikap berlebihan hanya akan membuat kita tidak dihormati oleh karyawan. Tidak perlu juga menciptakan suasana yang mencekam atau menakutkan. Lebih baik disegani bukan ditakuti. Dalam kondisi tertekan karena takut, karyawan cenderung tak bisa bekerja dengan baik.

Tidak bersikap otoriter

Seorang pemimpin sejati tidak menanamkan sifat harus selalu benar, harus selalu didengar. Justru kita akan dihargai kalau selalu bersimpati, selalu pengertian serta bersikap adil dengan memberikan pengetahuan kepada karyawan.

Sugeng menekankan, seorang pemimpin yang baik bukanlah orang yang hanya bisa menghakimi dan menilai kinerja para bahwannya. Caranya antara lain dengan memberikan bimbingan agar tim kerja dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

3 Kunci Untuk Jadi Pemimpin Tangguh

Ingin menjadi pemimpin yang tangguh dan sukses? Menurut Sugeng, ada tiga kunci yang harus dipegang yaitu ?

  1. Terampil dalam berkomunikasi : Biasanya sebuah proses komunikai selalu ditentukan dari hasil atau respon yang kita dapat. Jika belum mendapatkan hasil atau respon yang diharapkan, bisa dikatakan ada kesalahan dalam cara berkomunikasi. “Saat berkomunikasi dengan staf, ada baiknya Anda ingat akan tingkat kematangannya, kemampuan mendengarkannya, pengalaman kerjanya serta motivasi atau komitmen kerjanya. Perhatikan juga apakah staf merasa takut atau malu untuk bertanya pada Anda sebagai atasannya. Jika iya, beri dia kesempatan untuk bertanya,” pesan Sugenga yang juga seorang praktisi bisnis.
  2. Terampil dalam persuasi : Seorang pemimpin harus punya kemampuan persuasi atau “membujuk” tim kerja agar mau bergerak ke arah yang sama. Ingat, segala strategi ataupun taktik perusahaan tidak akan bermanfaat dan berhasil apabila staf tidak mau menjalankannya.
  3. Mempunyai pengaruh : Pengaruh adalah kunci terpenting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Jika tidak mempunyai pengaruh, kita tidak akan pernah bisa untuk memimpin orang lain. “Banyak faktor yang bisa membuat Anda menjadi orang berpengaruh. Misalnya: jabatan, gelar, kesaksian atau pengakuan dari orang lain, prestasi serta kemampuan untuk membuat individu lain merasa lebih baik ketika berhubungan dengan Anda,” jelas Sugeng.

 

Sumber: Majalah Sekar, Edisi 81/21, 18 April – 2 Mei 2012

Share This:

Leave a Reply

error: Content is protected !!