Penelitian Mengidentifikasi Lima Jenis Diabetes Bukan Dua

Penelitian Mengidentifikasi Lima Jenis Diabetes Bukan Dua – Sebuah sistem klasifikai baru yang dapat membantu para dokter dalam mengidentifikasi penderita diabetes yang paling beresiko mengalami konplikasi.

Selama bertahun-tahun, secara umum kasus diabetes melitus telah dilklasifikasikan dalam 2 tipe yaitu tipe 1 dan tipe 2. Namun, sebuah penelitian mengusulkan adanya kemungkinan ada 5 (lima) tipe yang berbeda atas penyakit ini. Beberapa diantaranya lebih berbahaya dibandingkan yang lain. Sebuah sistem klafisikasi baru dapat membantu para dokter dalam mengidentifikasi para penderita yang sangat beresiko terhadap komplikasi, ungkap penulis penelitian ini. Selain itu dapat menjembatani pada pengobatan dan perawatan yang lebih personal dan efektif.

Pada artikel tentang penelitian yang diterbitkan pada The Lancet : Diabetes & Endocrinology, peneliti meminta perhatian atas perlunya perbaikan sistem klarifikasi diabetes. Sistem yang ada saat ini belum banyak diperbaiki selama 20 tahun terakhir, ungkap para penulis dalam makalah mereka. Selain itu, hanya sedikit upaya yang telah dilakukan untuk mengeksplorasi heterogenitas diabetes tipe 2. Walaupun ada ketertarikan dari kelompok-kelompok ahli selama beberapa tahun untuk melakukan perbaikan.

Sementara itu, para peneliti menyatakan bahwa diabetes adalah penyakit yang paling cepat meningkat jumlah penderitanya di seluruh dunia. Perawatan yang ada aat ini tidak mampu membendung dan mencegah perkembangan komplikasi kronis yang terjadi pada banyak pasien. Menurut para peneliti ini, salah satu penjelasannya adalah diagnosis diabetes didasarkan hanya pada satu pengukuran yaitu bagaimana tubuh memetabolismekan glukosa, ketika penyakit ini sebenarnya jauh lebih kompleks dan lebih individual.

Saat ini, secara garis besar, diabetes diklasifikasikan menurut usia diagnosa dimana biasanya orang berusia muda biasanya menderita diabetes tipe 1). Dan ada dan tidaknya antibodi yang menyerang sel beta yang melepaskan insulin. Orang dengan diabetes tipe 1 mempunyai antibodi jenis ini karena itu tubuh mereka tidak dapat memproduksi insulin untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang dengan pada penderita diabetes tipe 2, tubuh mereka memproduksi insulin hanya saja tidak langsung digunakan oleh tubuh.

Berdasarkan kriteria ini, para peneliti mengatakan bahwa 75% – 85% penderita diabetes diklasifikasikan sebagai penderita diabetes tipe 2. Sepertiga bagian dari penderita diabetes dikenal sebagai latent autoimmune diabetes in adult (LADA) juga telah didiskusikan pada penelitian baru-baru ini.

Namun peneliti dari Universitas Gothenberg dan Universitas Lund di Swedia mengatakan bahwa tambahan subkelompok diperlukan. Untuk menunjukkan argumen ini, mereka menganalisa data kesehatan dari hampir 15.000 orang Swedia penderita diabetes tipe 1 dengan fokus pada enam variabel yang telah diukur dan dicatat pada saat diagnosis mereka yaitu usia, indeks massa tubuh, keberadaan antibodi sel beta, tingkat kontrol metabolik dan ukuran fungsi sel beta dan resistensi insulin.

Dari analisa tersebut, mereka mengidentifikasi adanya 5 kluster penyakit ini yang masing-masing menunjukkan karakteristik berbeda yang signigikan. Severe Insulin-Resistant Diabetes – Diabetes dengan Ketahanan Insulin Berat (SIRD) melibatkan tingkat resistensi insulin yang tinggi serta resiko tinggi terhadap penyakit ginjal akibat diabetes. Severe Insulin-Deficient Diabetes – Diabetes dengan Defisiensi Insulin Berat (SIDD) yang menyerang orang dewasa di usia yang relatif muda namun dengan kontrol metabolik yang buruk. Severe Autoimmune Diabetes – Diaberes dengan Autoimun Parah umumnya tumpang-tindih dengan diagnosa diabetes tipe 1 yang dikenal saat ini. Dua kelompok lain adalah Diabetes Terkait Usia yang Ringan dan Diabetes terkait dengan Obesitas yang nampaknya merupakan jenis diabetes yang lebih jinak.

Hasil penelitian ini memberikan acuan adanya sebuah sistem klasifikasi yang dapat membantu dalam mengidentifikasi orang yang mengalami resiko komplikasi tinggi. Ini juga dapat memberikan petunjuk yang lebih baik untuk para dokter dalam memberikan pilihan pengobatan. Saat ini mereka sedang bekerja dalam menemukan sarana berbasis jaringan yang membantu dokter untuk menentukan pasien pada kluster tertentu.

Secara khusus, para peneliti menuliskan bahwa SIDD dan SIRD adalah bentuk baru yang parah dari diabetes yang sebelumnya ditutupi oleh diabetes tipe 2. Mereka menemukan bahwa resiko komplikasi ginjal secara substansial meningkat pada pasien dengan SIRD. Sementara resiko retinopati diabetikum tertinggi ada pada mereka yang menderita SIDD. Sangat masuk akal untuk menargetkan individu dalam kelompok ini dengan perawatan intensif.

Para peneliti menyatakan bahwa sistem klasifikasi ini dapat membantu baik para penderita yang baru saja didiagnosa ataupun mereka yang telah lama menderita diabetes tipe 2. Akan tetapi, masih belum jelas apakah dengan berjalannya waktu, pasien dapat berpindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Selain itu, para peneliti juga menyatakan bahwa mereka belum dapat mengklaim bahwa metode pengelompokan mereka adalah sistem klasifikasi terbaik untuk subtipe diabetes. Penelitian yang lebih besar dan mencakup variable tambahan dan populasi yang lebih beragam masih diperlukan.

Keseluruhannya, peneliti menyatakan bahwa penggabungan beberapa pengukuran yang berbeda untuk membentuk diagnosis diabetes yang lebih spesifik tampaknya lebih bermanfaat daripada hanya menggunakan satu yaitu kadar glukosa untuk sekedar mendiagnosa tipe 1 atau tipe 2. Substratifikasi baru ini dapat mengubah cara pikir kita tentang diabetes tipe 2. Ini juga membantu untuk menyesuaikan dan menargetkan pengobatan dini untuk pasien yang akan mendapatkan manfaat yang paling besar. Dengan demikian ini akan mengawali langkah pertama pengobatan yang tepat pada penderita diabetes.

Gambar : pixabay.com

Sumber : www.health.com

Penulis : Amanda Macmillan

 

 

Share This:

Leave a Reply

error: Content is protected !!