Memancing Motivasi Di Dunia Kerja

Memancing Motivasi Di Dunia Kerja – Tanpa motivasi, gaji setinggi langit tidak ada artinya. Percaya deh! Setiap karyawan punya motivasi yang berbeda yang membuat mereka bersemangat datang ke kantor. Buat si A, bisa jadi gaji dan fasilitas yang didapatnya setiap bukan; sementara menurut si X, gara-gara dia nyaman dengan suasana kerja di kantor. Kita juga pasti mempunyai alasan sendiri bukan?

Apapun motivasi seseorang, itu akan tercermin pada hasil pekerjaannya. Kalau motivasinya rendah, bisa dipastikan hasilnya “so-so“. Sebaliknya, dengan motivasi tinggi, hasil pekerjaan kita juga akan maksimal. Paling bahaya kalau seseorang sudah kehilangan motivasi. Hambatan kecil, seperti komputer hang, bakal dijadikan alasan tidak perlu bekerja. Nah, jika melihat rekan kerja seperti ini, saatnya kita jadi motivator dadakan.

 

PENGGERAK TIDAK TERLIHAT

Menurut konsultan karier, Perdanawan P. Pane (Danny), motivasi di dunia kerja itu ibarat bahan bakar pada kendaraan. ” Anggaplah diri kita sebagai kendaraan, sementara perusahaan atau tempat usaha adalah jalan yang menyediakan jalur menuju tujuan hidup. Tanpa bahan bakar, mesin kendaraan tidak akan bergerak sedikitpun”.

Sama halnya bila kita ingin meraih posisi tinggi tetapi tidak mempunyai motivasi. Pasti kita hanya akan jalan ditempat saja. Oleh karena itu, Danny menyarankan agar kita mengetahui tombol pemicu masing-masing jika ingin sukses.

“Pada dasarnya setiap orang bisa dimotivasi. Karena setiap orang memiliki hot button alias tombol pemicu motivasi mereka”, jelasnya. Contohnya, kita akan mengambil cuti panjang. Biar bisa berlibur dengan tenang, berarti pekerjaan kita harus beres. Kitapun lebih bersemangat mengerjakan semua tugas supaya cepat selesai.

 

BISA “DIPANGGIL”

Tombol pemicu pada setiap orang tentulah berbeda-beda. Danny mengatakan ini karena manusia memiliki dua arah motivasi yaitu mengejar kesenangan dan menghindari kesusahan. “Kita bisa menggunakan kedua hal tersebut untuk membantu memotivasi orang lain. Tetapi yang perlu digali terlebih dahulu adalah apa tujuan bekerja (purpose) orang tersebut.”.

Jika seseorang bekerja demi membantu biaya hidup orang tuanya, diasumsikan dia bekerja untuk menghindari kesusahan. Tapi bila seseorang bekerja untuk mengajak orangtuanya berlibur maka bisa diasumsikan dia bekerja untuk mengejar kesenangan,

“Jika dia bekerja untuk mengejar kesenangan, tanyakan, siapa saja yang akan ikut senang menerima “reward” dari pekerjaannya?”. Tanpa dia sadari, jika sedang mengajaknya untuk membayangkan kebahagiaan jika dia bekerja dengan baik”, jelas Danny.

 

MOTIVATOR DADAKAN

Danny menambahkan bahwa memotivasi rekan kerja bukan hanya urusan atasan. Mengapa? Karena seseorang yang kehilangan motivasi atau demotivasi seringkali menyusahkan semua orang. Misalnya saat diminta membuat laporan yang gampang, dia bilang susah dan bolak-balik mengganggu kita hanya untuk bertanya ini-itu.

Kita sebagai rekan kerja juga bisa menumbuhkan motivasi, bahkan tanpa kesan menggurui. Caranya adalah dengan memberikan tantangan unik kepada mereka. Contohnya dengan membuat “taruhan” untuk menggaet klien besar dalam waktu tertentu, Pemenang taruhan akan ditraktir oleh pihak yang kalah sebagai hadiahnya. Biasanya cara ini sukses memancing semangat rekan kerja. Sayangnya tidak semua pekerjaan bisa selalu dikompetisikan.

Kalau selalu ada rewards, lama-kelamaan orientasi bekerja juga bisa berubah hanya untuk mengejar hadiah tersebut.

 

FAKTOR X

Motivasi akan muncul bila kondisi lingkungan kerja kita ikut mendukung. Lupakan dulu soal fasilitas kantor yang seadanya, mulai AC yang tidak dingin, internet lambat hingga pembatasan pemakaian telepon kantor. Yang lebih penting adalah hubungan baik antara semua orang, atau dalam kata lain adanya work engagement.

Perhatian sederhana juga dapat menciptakan hubungan kerja yang harmonis. Kadang mempunyai rekan kerja yang super cuek dapat membuat seseorang kehilangan motivasi bekerja di kantor. Bisa jadi sikap rekan kerja yang malas-malasan selama ini hanya karena dia ingin diperhatikan.  Mereka yang butuh perhatian pasti akan senang sekali jika diajak berbicara atau mengobrol. Kitapun bisa memanfaatkan setiap waktu luang untuk menanyakan apa yang sedang dia kerjakan. Jangan segan pula untuk saling berbagi pengalaman jika kita kebetulan pernah mengerjakan tugas serupa.

Siapa tahu jika didengarkan, rekan kerja mau bercerita tentang hambatan dalam pekerjaan. Harapannya, jika dia sudah terbuka, kita bisa sekalian mengkoreksi performa kerjanya agar lebih baik lagi, bukan karena ingin mencari kambing hitam.

 

TEBAR PUJIAN

Berhasil mendapatkan klien besar tentu saja sebuah prestasi. Hanya saja tanpa pengakuan dari orang-orang di sekeliling, kita tidak tahu apakah kita sudah melakukannya secara benar atau ada yang kurang. Kebingungan memang salah satu hambatan bagi seseorang untuk sukses. Berhubung takut salah, beberapa diantara kitapun mengkondisikan bekerja hanya sebagai rutinitas sehingga akhirnya kehilangan motivasi.

Rekan kerja yang seperti ini harus segera disadarkan. Meski sekarang pekerjaannya kurang bagus, pasti ada hal positif dari diri mereka. Jadi fokuslah pada kelebihannya sehingga dia tahu harapan orang lain padanya. Pujian juga menandakan bahwa ada seseorang yang menghargai pekerjaannya. Kita boleh memuji seseorang sesering mungkin asalkan tulus, supaya rekan kerja kita ingat bahwa bila dia terus melakukannya, dia sudah berada di jalur yang benar.

 

SELALU BERKOMUNIKASI

Komunikasi yang baik menjembatani kepercayaan dan kenyamanan diantara rekan kerja. Kita tidak akan iri saat teman mendapatkan promosi. Kita justru paham bahwa dia memang kompeten sehingga selalu dipercaya mengerjakan proyek besar, bukan karena dia anak emas bos.

Untuk memotivasi rekan kerja, jangan hanya sebatas omongan. Kita juga harus beraksi agar dia ikut bergerak. Saat kita menyarankan agar rekan kerja menggunakan grafik visual untuk mempermudah presentasinya, cobalah tunjukkan contoh prestasi milik kita. Dengan contoh, biasanya akan lebih mudah dimengerti.

Segala cara sudah dicoba, tetapi rekan kerja kita tetap tidak termotivasi? Kita hanya bisa pasrah karena faktor penggerak terbesar adalah diri sendiri. Jika dia tidak mau “diselamatkan” tentunya dia yang akan rugi sendiri.

 

Sumber : Majalah CitaCinta No. 07/XIII

Gambar : www.pixabay.com

Share This:

Leave a Reply

error: Content is protected !!