Hati-hati Kalau Menyetir

Hati-hati Kalau Menyetir – Menyetir harus dilakukan dengan benar. Kalau tidak, salah-salah kesehatan mental Andalah korbannya. Jika Anda tinggal di kota besar, masalah lalu lintas bukan benda asing bagi Anda. Malah, Anda bisa dibilang akrab dengan masalah yang umum terjadi di kota-kota besar di seluruh dunia ini. Anda juga mungkin tidak asing dengan berbagai perilaku aneh para pengemudi kendaraan bermotor di jalan yang penuh dengan masalah ini. Menerobos lampu merah, membaca koran ketika macet, bernyanyi, menelepon lewat telepon seluler, makan dan bahkan bercukur.

Bahkan kini lewat kemajuan teknologi, Anda bisa menyaksikan acara televisi atau bahkan menonton film sambil menyetir. Anda mungkin sadar hal-hal tersebut mengancam keselamatan orang lain. Tetapi mungkin Anda tidak sadar kebiasaan-kebiasaan menyetir mobil sambil melakukan hal-hal lain tersebut juga bisa membahayakan diri Anda sendiri secara psikologis.

BAHAYA MULTI TASKING

Dalam dunia komputer, istilah multi tasking digunakan untuk menjelaskan kemampuan sebuah komputer untuk menjalankan beberapa program sekaligus secara bersamaan. Seperti komputer, manusia juga memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus dalam waktu bersamaan. Bahkan bisa dibilang kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan aktivitas multi tasking tersebut. Misalnya makan sambil bergosip, membaca koran sambil mendengarkan radio dan sebagainya.

Melakukan hal-hal lain sambil menyetir juga merupakan aktivitas multi tasking, Cuma, menyetir sambil menelepon lewat telepon genggam berbeda dengan makan sambil membaca koran, misalnya. Pada aktivitas yang pertama, Anda dituntut untuk berkonsentrasi penuh pada segala macam hal yang berhubungan dengan lalu lintas. Mobil lain, pejalan kaki, rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya, Belum lagi kegiatan menyetir mobil sendiri juga merupakan aktivitas multi tasking.

Menurut beberapa penelitian, selama menyetir tanpa melakukan aktivitas lain saja, Anda harus memecah konsentrasi pada banyak hal. Bunyi aneh pada mesin mobil Anda saja, misalnya, bisa merusak konsentrasi Anda dalam memperhatikan kondisi jalan. “Dan distraksi atau beralihnya konsentrasi saat menyetir merupakan hal yang sangat berbahaya,”, kata Sheila S. Sarkar, PhD, direktur California Institute of Transportation Safety. Sayangnya, kebanyakan pengemudi tidak menyadari betapa terbatasnya konsentrasi manusia.

Batas ini didemonstrasikan oleh para ilmuwan di Carnegie Mellon University yang menyimpulkan bahwa setiap aktivitas diatur oleh bagian otak yang berbeda. Jadi, jika seseorang melakukan dua aktivitas sekaligus secara bersamaan maka kemampuan otak akan lebih cepat terkuras. Akibatnya kita akan menjadi lebih mudah lelah, stres dan menjadi lebih sensitif. “Belum lagi akibatnya bagi kecepatan reaksi manusia. Padahal untuk masalah keselamatan di jalan, faktor waktu merupakan penentu utama,”, kata Sarkar.

MENINGKATNYA EMOSI NEGATIF

Leon James Ph.D, seorang profesor dari University of Hawaii dan timnya pernah melakukan penelitian dengan membekali beberapa pengemudi dengan perekam suara. Mereka lalu diminta merekam setiap perasaan yang mereka alami selama mengemudi. Hasilnya ternyata mengejutkan karena James menemukan hampir semua respondennya mengalami peningkatan emosi negatif seperti marah, kesal dan agresif selama mengemudi. Sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari fenomena ini dan membiarkan diri mereka dikuasai amarah mereka sendiri.

Bayangkan jika Anda rutin mengemudi dari dan ke kantor setiap hari. Mengalami perubahan emosi setiap hari tentu tidak baik bagi kesehatan Anda, baik psikis maupun fisik.

Selain itu, ungkap James, kondisi macam apa yang terjadi di jalan dengan tingkat emosi negatif yang begitu tinggi? “Bayangkan saja jika setiap orang merasa marah saat mengemudikan mobil. Maka dalam satu saat saja ada ratusan orang yang sedang keadaan marah di jalan. Bagi saya, itu lebih mirip keadaan di medan perang daripada jalan raya,” papar James.

Dalam situasi seperti itu, tak terlalu mengagetkan jika orang lalu main seruduk di jalan raya atau melakukan tindakan-tindakan aneh lainnya seperti menyalip kendaraan yang dianggap kurang ajar atau memaki-maki pengemudi lain tanpa ujung pangkal.

Karena itu, James menyarankan para pengemudi untuk lebih memperhatikan emosinya dan sebisa mungkin mengontrol emosi tersebut dengan tiga langkah berikut :

  • Berusaha menjadi pengemudi yang sopan, dengan mengubah perilaku mengemudi Anda secara bertahap. Pada hari pertama, cobalah mengemudi dengan menaati rambu-rambu lalu lintas. Esoknya, cobalah untuk memberikan jalan kepada kendaraan lain.
  • Perhatikan tingkah laku Anda. Jika Anda sadar sedang marah, cobalah mengingat-ingat berapa lama Anda marah dan bagaimana tingkah laku Anda selama marah tersebut. Apakah Anda melakukan tingkah laku agresif yang membahayakan pengemudi atau pengguna jalan lain?
  • Setelah itu, cobalah mengubah tingkah laku Anda bila sedang marah. Daripada balas menyalip kendaraan yang  mendahului kendaraan Anda dengan penuh dendam, lebih baik katakan pada diri sendiri bahwa orang tersebut mungkin sedang terburu-buru ke rumah sakit karena isterinya akan melahirkan dan sebagainya.

Kabar baiknya, emosi negatif tersebut perlahan-lahan akan hilang dnegna sendirinya begitu Anda keluar dari mobil dan tidak menyetir lagi. Karena itu, jika melakukan perjalanan jauh, sebaiknya Anda berhenti sesekali untuk meredakan emosi Anda sekaligus memberikan istirahat pada tubuh Anda.

 

Penulis : Arie

Sumber : Majalah Mingguan Wanita Lisa, No. 51/V; 23-29 Desember 2004

 

Share This:

Leave a Reply

error: Content is protected !!