Eatiquette Makan Juga Ada Seninya

Eatiquette makan juga ada seninya – Bingung! Itu yang sering kita rasakan saat duduk di meja dengan dua pisau, tiga garpu dan satu sendok. Waduh, mana yang akan dipakai dahulu?

Kebingungan bisa disusul panik karena kita sadar sekali bahwa penerapan etika di meja makan secara tidak langsung menunjukkan kualitas pergaulan dan tingkat intelektualitas seseorang. Jadi, di situasi-situasi tertentu, hal ini memang diperlukan. Misalnya jika ada rapat dengan klien, kita salah menggunakan garpu. Bisa jadi ini membuat kita malu. Berikut adalah pengalaman beberapa orang tentang table manner yang mungkin perlu kita tahu.

MULAI DARI KELUARGA

Kebiasaan table manner umumnya diajarkan dari keluarga. Jika sejak kecil kita dibiasakan makan di meja makan dan juga menerapkan etikanya. otomatis kita mudah melakukannya ketika kita dewasa, seperti kebiasaan Pitta Sekar Wangi.

“Saya tumbuh di lingkungan keluarga dengan nilai Jawa yang kental dan banyak peraturan, termasuk untuk urusan makan. Misalnya dilarang berbicara sambil makan. Jika mau mengambil makanan yang letaknya jauh, saya harus minta tolong orang lain yang lebih dekat, tidak boleh mengambilnya sendiri.”

Priska Aprilia juga mengetahui etika makan dari tantenya yang sering bepergian ke luar negeri. Lama-lama, Priska menjadi tidak kagok jika harus menghadiri acara makan malam formal.

” Orang-orang di luar negeri selalu menerapkan table manner di kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan orang Indonesia. Tante yang biasa bersosialiasasi dengan orang asingpun menularkan ilmunya kepada saya,” ujarnya.

MELALUI KAMPUS

Ada lagi cara belajar etika makan yaitu kegiatan table manner di kampus. Ya, beberapa jurusan memang memiliki mata kuliah table manner. Salah satunya adalah jurusan public relations. Mereka yang mengambil jurusan ini tentu tidaklah asing lagi dengan etika di meja makan.

” Meski pengalaman pertama table manner saya dapatkan melalui keluarga, saya tetap kagum setelah mengikuti mata kuliahnya. Lebih  lengkap dan  baru tahu ternyata masih banyak aturan yang perlu diketahui,” jelas Pitta.

Nurul Fuadah juga memperoleh ilmu table manner saat belajar di jurusan Ilmu Kesejahteran Keluarga. Dia mempelajari cara menyajikan pisau, mangkuk, piring, hingga garpu sekaligus cara penggunaanya.

” Awalnya berat sekali karena saya tidak punya pengetahuan dasar table manner. Saat ujian, saya sampai menumpahkan sup jagung ke meja. Untung tidak ketahuan dosen,” ujarnya.

LEARNING BY DOING

Tentunya kita sendiri juga bisa mempelajari table manner, apalagi jika pergaulan atau karir kita menuntut hal itu. Bisa lewat buku, internet atau film. Novika Sari mempelajari table manner dengan menonton film yang menampilkan adegan makan di pesta pernikahan.

” Saya tahu posisi pisau dan garpu di meja makan berkat film drama romantis. Biasanya, kan ada adegan berkumpul bersama keluarga. Saat itulah saya memahami cara menggunakan alat makan lainnya”. Selain belajar melalui film Novika juga menyerap info table manner melalui artikel majalah atau dari internet. Teori yang dia dapatkan menjadi semakin berkembang saat memasuki dunia kerja.

“Saat saya bekerja, saya bergaul dengan berbagi kalangan, termasuk level manajer ke atas. Otomatis, saya harus makan berdasarkan etika ketika berkumpul dengan mereka”.

 

TERGANTUNG KONDISI

Walaupun ilmu table manner sudah lumayan dikuasai, tidak semua orang mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Nurul, saat di rumah dia lebih suka makan sambil menonton televisi.

“Saya enggan menggunakan table manner di rumah karena cukup ribet. Untung keluarga saya tidak keberatan. Saya hanya melakukannya saat ada acara-acara besar di kampus.”

Priska juga melakukan hal yang sama. Dia hanya menerapkannya ketika pergi ke luar negeri dan menerima jamuan makan malam resmi. Maklum, biasanya makanan disajikan secara berurutan mulai dari appetizer, main course hingga dessert. Lain halnya dengan Pitta. Berhubung keluarganya sangat mementingkan peraturan, dia pun tetap menggunakan etika makan tersebut di rumah.

“Duduk harus tegak dan kaki harus lurus. TIdak boleh membawa ponsel ke meja makan. Bahkan saat telepon rumah berdering, kami tetap makan dan membiarkan asisten rumah tangga yang mengangkat telepon”, ujarnya.

 

Sumber : CitaCinta No. 07/XIII

Gambar : www.pixabay.com

 

Share This:

Leave a Reply

error: Content is protected !!